LightBlog

Pernyataan slapstick Trump Dapat Memicu Perang dunia III

Abdul Hamid 
Suarapelajar.com Sebuah Opini oleh : Abdul Hamid Mahasiwa Fakultas Hukum Universitas Mulawarman Kalimantan Timur 

Pernyataan slapstick Presiden AS (Amerika Serikat) Donal Trump mengklaim secara sepihak  bahwa Yerussalem merupakan ibu kota Israel dapat menimbulkan konflik  secara global, bagaimana tidak pernytaan sepihak yang di sampaikan oleh presiden AS tersebut menuai kecaman dari seluruh 
pimpinan Negara yang tergabung dalam OKI (Organisasi Kerjasama Islam ). 
Hal inipun menyulut amarah dari salah satu anggota OKI  (Organisasi Kerjasama Islam )  Recep Tayyip Erdogan bahwa sang presiden Turki Tersebut, mengatakan  akan  memobilisasi seluruh anggota  OKI  (Organisasi Kerjasama Islam ) yang terdiri dari 47 negara untuk mengambil  tindakan diplomatik memutus seluruh kerja sama antara negara Amerika Serikat ,hal inipun ketika dilakukan akan menimbulkan kekacauan politik dan ketidak stabilan ekonomi yang bisa berujung kepada konflik secara global . Menelaah lebih jauh apakah ada indikasi  terjadi pelanggaran hukum internasional  atas pengakuan AS terhadap Yerussalem sebagai ibu kota Israel? Jawabannya jelas sangat bertentangan dengan prinsip kedualatan sebuah negara Tiap-tiap negara tunduk pada hukum internasional. Pada prinsipnya, hukum internasional mengatur hubungan atau persoalan yang melintasi batas negara. Dalam kasus ini, Trump telah membawa AS dalam pelanggaran hukum internasional publik dengan secara sepihak menetapkan Yerusalem sebagai ibu kota negara Israel.
Dalam hukum internasional ada istilah sine delicto yang berarti perbuatan yang, pada hakikatnya, tidak dilarang oleh hukum internasional, tetapi hasil dari perbuatan tersebut menimbulkan kerugian dan/atau adalah sebuah pelanggaran pada hukum internasional.
Pemindahan kedutaan besar bukan hal yang dilarang oleh hukum internasional, tetapi efek yang ditimbulkan pada negara yang sedang berkonflik tersebut merupakan pelanggaran hukum internasional.
Secara lebih sederhana, intervensi menjadi sebuah kata yang tepat untuk menggambarkan keputusan Trump berkaitan pemindahan Kedutaan Besar AS untuk Israel ini. Klaim atas Yerusalem adalah hal yang sepantasnya diselesaikan antara Israel dan Palestina sendiri.
Sulit menerka apa yang terlintas dalam kepala presiden negara adidaya ini. Meski telah berkali-kali dikecam atas keputusannya, Trump tidak pernah tampak jera, bahkan cenderung kian berani dalam mengambil keputusan. Tidak hanya berani, Trump bahkan menganggap apa yang dilakukannya sebuah hal yang benar, tampak dari singgungannya pada presiden-presiden AS sebelumnya yang dianggap “tidak berani” untuk mengambil keputusan ini.
Meramalkan masa depan setelah kejadian ini, negara-negara Timur Tengah lainnya dan Arab dipastikan akan bergejolak dan melakukan protes besar-besaran terhadap keputusan Trump. Bahkan beberapa pemimpin negara mereka telah memberikan peringatan keras, meski entah hal apa yang akan mereka lakukan sebagai tindak lanjut dari ancaman ini. Konflik bersifat agamis menjadi salah satu hal yang diramalkan akan terjadi setelah kebijakan presiden ke-45 AS ini.(fdl)

Share on Google Plus

About IMSA Etam

0 komentar: