LightBlog

Menteri Yohana Pantau Kasus Cabul di Balikpapan







Hasil gambar untuk menteri anak
BALIKPAPAN - Seorang aktivis lingkungan berinsial PDW menjadi tersangka atas kasus pencabulan sesama jenis. Tersangka yang juga fasilitator anak berskala internasional itu ditangkap anggota Subdit IV Renakta Ditreskrimum Pol
da Kaltim.
Direktur Reskrimum Polda Kaltim, Kombes Pol Hilman menyatakan, kasus predator seksual ini mencuat setelah 9 orang korban melapor ke kepolisian."Tersangka ditangkap di wilayah Yogjakarta," kata Kombespol Hilman.
Kasus tindak pencabulan terhadap sejumlah anak yang diduga dilakukan oleh seorang pemuda berinisial P, pimpinan organisasi besar lingkungan hidup, memukul banyak pihak. Apalagi, organisasi itu beranggotakan para remaja SMP dan SMA, bahkan pernah menjadi fasilitator organisasi anak.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise dalam kesempatan membuka Perkemahan Putri Tingkat Nasional ( Perkempinas) III Tahun 2017 kemarin (19/11), mengungkapkan keterkejutannya. Dia menegaskan ikut memantau proses hukum yang sedang berlangsung.
“Hal semacam ini amat kami sayangkan, apalagi tersangka merupakan salah satu anak muda yang berprestasi dan salah satu binaan kami,” kata dia.
Sementara untuk para korban akan mendapat pendampingan, khususnya psikologis untuk mengurangi dan menghilangkan trauma.

Yohana mengaku tidak menyangka jika hal tersebut bisa terjadi dalam organisasi anak. Jika kasus semacam ini disembunyikan, maka korban bisa saja bertambah banyak. “Kami minta untuk identitas korban tolong tetap dirahasiakan. Hal seperti ini bisa terjadi di mana saja. Tugas kami melindungi, kita semua juga punya tugas sama,” jelasnya.

Lebih lanjut dia mengemukakan, kasus pencabulan mengalami kenaikan. Itu berarti masyarakat mulai sadar pentingnya melaporkan. Dahulu, kebanyakan korban atau keluarga perempuan atau anak korban kekerasan seksual, merasa takut melapor karena menganggap hal tersebut aib. “Makin banyak laporan, tandanya masyarakat mulai sadar. Guru, orangtua, atau perempuan mulai melapor,” seloroh dia.

Makin lama meningkatnya pelaporan, diharapkan bisa menurunkan angka kekerasan. Dengan begitu pelaku akan sadar. Masyarakat akan sadar kalau perempuan dan anak-anak harus dilindungi. Dia mengungkapkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan bahwa satu dari tiga perempuan mengalami kekerasan fisik, psikis, atau seksual.

“Satu dari tiga perempuan mengalami kekerasan fisik, psikis atau seksual, juga penelantaran. Data yang diperoleh dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, tahun 2012 silam ada 18.718 kasus kekerasan yang dilaporkan. Jumlah ini kemudian meningkat pada tahun 2017, yakni 54.041 kasus sampai Juni,” bebernya.

Kekerasan terhadap anak ibarat fenomena gunung es. Jumlah laporan yang terus meningkat, dikatakannya, lantaran kian meningkatnya kesadaran masyarakat untuk melapor. “Tidak hanya korban, tetangga yang mengetahui ada kekerasan sekarang sudah berani melaporkan. Tentu saja ini langkah positif. Ke depan dengan adanya laporan pelaku kekerasan dapat segera ditangani, sehingga kasus kekerasan juga bakal menurun,” pungkas dia. (cha/yud/k1) (sumber:Balikpapanpost)

Share on Google Plus

About IMSA Etam

0 komentar: