LightBlog

Gerakan Ideologis Tumbuh Subur, Salah Siapa ?

Helmi C.R. Lubis *)

Setidaknya ada 3 jenis gerakan ideologis di Indonesia yang menjadi cakupan judul di atas, yakni : 1. Komunisme Indonesia, 2. Ideologi Islam Versi Masyumi, dan 3. Ideologi Islam Versi NII. Sebagaimana juga terjadi pada gerakan ideologis lain seperti Nazi di Jerman dan Zionis di Israel, di mana para pengikut setianya memiliki fanatisme buta terhadap ideologi yang dianutnya hingga akhir hayat, ketiga "ideologi" di atas juga mengalami hal yang sama.
A. Komunisme Indonesia
Walaupun secara de facto ideologi ini sudah dinyatakan terlarang oleh negara sejak Peristiwa G-30 S/ PKI tahun 1965, para pentolannya sudah dieksekusi (sayangnya sebagian di antaranya berhasil kabur ke luar negeri) dan mereka yang terdata sebagai anggota golongan B dan C dihukum penjara 20 tahun sampai seumur hidup, namun paham ini tetap berkembang sebagaimana "fenomena gunung es".
Uniknya faham ini sejak dekade 90-an sangat digandrungi oleh kaum terpelajar seperti dosen dan mahasiswa yang awalnya membaca teori-teori sosialisme hanya sekedar memenuhi tuntutan (referensi) wajib sebagai mahasiswa dalam bidang Sosiologi, Filsafat, Ushuluddin dan sejenisnya. Terlebih bila membaca dan mengikuti presentase kaum tua seperti Pramudya Ananta Toer dan tokoh segenerasinya, kekaguman terhadap sistem kerakyatan yang dijanjikan oleh ajaran sosialis-komunis akan semakin mengental.

Beberapa tahun yang lalu saya sempat mengunjungi perkampungan rehabilitasi eks tapol PKI di Balikpapan, di mana sejak Gus Dur mengeluarkan kebijakan pembebasan bagi tapol yang berkelakuan baik, mereka yang sudah berusia 70 - 80 tahun tersebut dititipkan di keluarga tertentu untuk belajar bersosialisasi. Ketika diajak bercerita tentang alasan penangkapan dan penahanan mereka 30 tahun lalu, dengan menggebu-gebu "Sang Kakek" menyampaikan pembelaan dirinya sekaligus meminta dukungan terhadap paham yang sampai saat ini dianggapnya sebagai "ideologi terbaik". Artinya, kaum tua penganut komunisme ini tidak sedikitpun merasa bersalah dengan pendiriannya selama ini.
B. Ideologi Islam Versi Masyumi
Sebelum kemerdekaan Indonesia sampai zaman Orde Lama penanaman ideologi Islam yang dimotori oleh Syarikat Islam dan Masyumi ini memang cukup dominan bahkan mampu menyaingi kekuatan kaum nasionalis dan kaum komunis. Sebagai bukti coba kita review kembali komposisi kekuatan politik di Konstituante pada saat votting suara untuk mengambil keputusan tentang dasar negara, apakah 7 kata dalam Piagam Jakarta akan dihapus atau tidak, ternyata dari 9 fraksi yang ada diperoleh hasil : 4 suara dari kaum nasionalis menyatakan setuju, 1 suara dari kaum komunis juga menyatakan setuju dan 4 suara dari kaum yang mewakili ideologi Islam menyatakan menolak. Kasus kedua adalah hasil pemilu pertama di Indonesia di mana Partai Masyumi terbuki berhasil menjadi pemenang mutlak.
Sejak Masyumi dibubarkan oleh Bung Karno, missi untuk memperjuangkan ideologi Islam melalui jalur politik menjadi terpecah. Tokoh Masyumi yang asli seperti Pak Natsir dan kawan-kawan justru memilih jalur perjuangan non politik (Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia). Sebagian mantan aktivis Masyumi berjuang melalui Parmusi, kemudian sejak Orde Baru perjuangan ideologi Islam "difasilitasi" melalui wadah PPP dan sejak era reformasi kepentingan ini menggelinding ibarat bola liar. Lebih dari 10 parpol mengkalim dirinya sebagai penerus cita-cita Syarikat Islam dan Masyumi. Sebut saja Partai Bulan Bintang dan Partai Keadilan. Walaupun secara kuantitas Partai Keadilan (sekarang berubah menjadi PKS) unggul dari sisi perolehan suara dalam pemilu, namun jika kaum tua mantan Syarikat Islam dan Masyumi ditanya ke mana mereka menyalurkan hak politiknya, bisa dipastikan simbol "bintang bulan" masih menjadi media ikatan ideologis dan fanatisme mereka.
C. Ideologi Islam Versi NII
Mirip dengan fenomena-fenomena di atas, kaum tua mantan simpaisan NII di Jawa Barat dan basis DI/ TII lainnya seperti Aceh, Sulawesi Selatan serta Kalimantan Selatan masih menjadi simpatisan setia NII sampai saat ini. Mereka masih menyimpan kekaguman masa lalunya dan belum bisa menerima alasan pelarangan ajaran/ cita-cita Kartosuwiryo ini. Hal ini diakui oleh Mayjend TNI (Purn) Tubagus Hasanuddin yang kini masih menjabat sebagai anggota Komisi I DPR RI, di mana orang tua serta keluarga besar orang tuanya juga masih menjadi simpatisan dan memiliki fanatisme yang besar terhadap ketokohan Kartosuwiryo. Fenomena ini dipastikan banyak terjadi di mana-mana dan menjadi "pupuk" bagi kesuburan NII gaya baru dan missi yang sedang dijalankan oleh AS Paji Gumilang sampai saat ini.
*) Sekum PC KB PII Balikpapan
Share on Google Plus

About suara pelajar

0 komentar: