LightBlog

Dolanan Tur Agawe Makaryo

Dolanan Tur Agawe Makaryo

Oleh : Dedi Nur Sidik
(Ketua PW PII Yogyakarta Besar)
Kumpul makan bareng tapi sepi tangan sibuk sendiri, ada yang senyum-senyum sendiri. Ada yang sibuk nunjukin gagdetnya ke yang lain. Obrolan langsung walau bertatap muka langsung jadi kurang meriah, karena meriahnya di dunia maya, malah lebih meriah di group Whatssap. Hal ini sudah biasa kita rasakan, bahkan kita juga kadang melakukan. Meriah di dunia maya itu bisa di mana saja, kapan saja, dan sedang apapun kita bisa memeriahkannya. Itulah dunia lain yang telah lahir dan ada di zaman kita sekarang. Entah dunia yang akan seperti apalagi kelak ketika anak cucu kita besar nanti. Zaman waktu kita kecil sudah berbeda dengan zaman kita sekarang, sugeng rawuh ing jaman mileneal. Katanya nama zaman sekarang gitu.
Itu seklumit yang kita alami di zaman sekarang ini. Mendekatkan yang jauh, eh malah kadang menjauhkan yang dekat. Semoga tidak menjauhkan sebuah hubungan, entah hubungan apapun itu. Seklumit hal lain yang sangat berdampak kurang positif bahkan negative terjadi pada generasi muda sekarang, para remaja yang notabenya para pelajar baik dari sekolah dasar sampai menengah. Banyak orang tua mengeluh dan bahkan banyak orang tua yang menenangkan anaknya dengan gadget.Alhasil anak lebih akrab dengan gagdetnya ketimbang dengan orang tuanya. Berbeda dengan zaman saya dahulu, selalu disambangi teman untuk bermain. Mungkin anak zaman sekarang mereka saling menyambangi di dunia maya sana. Dolanan dahulu amat terkesan menyenangkan dan mengesankan.
“Ibu minta hape yang bisa ini itu dong” itu permintaan anak zaman sekarang berbeda dengan permintaan waktu kita kecil. Permintaannya mungkin hanya seperti ini“Pak, nyuwun damelke egrang” (Pak, minta dibuatkan egrang). Dari cara meminta seorang anak dan memberi kepada anak tentu sangat perbedaan yang jauh dari zaman sekarang dan zaman dahulu. Dilihat dari harga tentu sangat berbeda jauh. Hal yang memberi pelajaran yang luar biasa yaitu ketika orang tua menuruti permintaan anak ketika orang tua memberi hape sejujurnya telah mengajarkan anak untuk hidup konsumtif tak mengajarkan arti sebuah usaha. Berbeda dengan permintaan anak “Pak, nyuwun damelke egrang” ada usaha yang harus dilakukan orang tua. Dan biasanya orang tua akan membuatkan egrang itu dan disaksikan oleh anaknya. Hal itu yang pernah saya alami, seakan orang tua mengajarkan langsung untuk berkarya. Dolanan mbiyen iso agawe makaryo.
Festival permainan tradisional yang diprakarsai PD PII Kota Yogyakarta, PD PII Bantul, PD PII Sleman Raya pada Minggu (17/9) dengan mengusung tema “Bangkitkan semangat berbudaya dalam upaya mewujudkan nilai Pancasila” merupakan sebuah usaha untuk tidak melupakan permainan tradisional. Berbagai permainan tradisional menjadi kompetisi antar pelajar. Egrang, bathok kelapa, terompah panjang, tulup dan permainan tradisional lainnya menjadi kompetisi yang menarik dan menyenangkan.Dari mulai pembuatannya dilakukan gotong royong dan semangat kebersamaan, memainkannya penuh dengan canda tawa dan riang gembira. Sudah saatnya pelajar menjadi elemen yang menjaga budaya ini tetap ada. Karena budaya dari permainan tradisional mengandung nilai-nilai dari Pancasila.
Itulah permainan tradisional, dari mulai pembuatannya mengajarkan kita untuk makaryo (berkarya). Ketika seorang anak menginginkan sesuatu alat permainan tradisional, dia akan meminta dibuatkan atau bahkan meminta uang untuk membeli bahan dan membuatnya sendiri. Berbeda dengan sekarang meminta uang untuk membeli paket kuota internet. Apalagi ketika asyik bermain permainan tradisional banyak hal yang sepele tetapi mengajarkan hal yang bermakna. Usaha, kebersamaan, riang gembira menjadi hal yang amat berarti dan bermakna dalam permainan tradisional. Semoga permainan-permainan tradisional tersebut tidak hanya menjadi nostalgia di masa kita sekarang saja. Bermain dan berkaryalah, dolanan tur agawe makaryo.(sumber :suplel.id)
Share on Google Plus

About IMSA Etam

0 komentar: