LightBlog

Pendidikan atau Pasar?



Penulis adalah Ketua Umum Pelajar Islam Indonesia Kalimantan Timur (Fadil Hidayatul Fajri)

Suarapelajar.com, Samarinda. Dalam beberapa tahun terakhir mutu pendidikan selalu berupaya di tingkatkan melalui metode metode yang cocok dengan kultur masyarakat Indonesia. Banyak sudah pelajar Kalimantan Timur  yang berhasil meraih prestasi di tingkat nasional maupun internasional. Dalam hal ini kita patut berbangga hati.

Dalam slogannya pemerintah selalu mengangkat tema pendidikan berkarakter akan tetapi mungkin itu hanya slogan semata.  Pemerintah seakan melupakan atau malah sengaja tidak menghiraukan hal paling penting dalam esensi pendidikan yakni muatan pendidikan tersebut. Orientasi pendidikan semakin jauh dari makna pendidikan itu sendiri. Pelajarm sebagai subje pendidikan contohnya,  hanya menjalankan program pemerintah bukan berusaha menuntut ilmu. Realitas lain sekarang guru bukan sekedar menyampaikan materi keilmuan yang wajib mereka berikan saja. Tidak sedikit pula para pendidik yang mengejar jam mengajar hanya untuk mendapat tambahan pendapatan tiap bulannya. Padahal seharusnya tujuan pendidikan itu adalah  menciptakan manusia yang baik. Hal paling penting dalam pendidikan adalah memberikan contoh atau adab yang baik bagi para anak didik bukan hanya sekedar memberikan materi semata. 

Dikotomi pendidikan juga harus menjadi perhatian kita semua. Seolah adanya jurang pemisah antara sekolah berbasis agama dan sekolah berbasis umum maupun kejuruann.ini kan budaya sekularisme pendidikan yang diwariskan kolonilasime belanda saat menjajah Indonesia agar mental bangsa Indonesia menjadi lemah. Tapi di zaman yang sudah dikatakan merdeka ini hal tersebut masih dipertahankan. Hal tersebut sangat lucu sekali.

Paradigma sebagian  masyarakat saat ini mengenai pendidikan hanya sekedar sbagai alat untuk mendapatkan pekerjaan atau hidup yang lebih baik lagi. Budaya kapitalisme dan sekularisme pendidikan sudah sngat mengakar dalam budaya bangsa Indonesia tidak terlepas warga Kalimantan timur. Menyekolahkan anaknya jauh-jauh hanya untuk mendapatkan pekerjaan atau jabatan yang lebih tinggi lagi. Ini sangat miris sekali dimana konteks keilmuan itu sendiri sudah sangat hilang dalam kultur masyarakat kita.

Kita mengapresiasi program pemerintah wajib belajar 12 tahun ditambah di Kalimantan timur ini beasiswa penunjang pendidikan sangat melimpah mulai jenjang pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Akan tetapi kita melupakan membangun kultur dan budaya belajar di masyarakat. tidak heran jika budaya literasi kita sangat rendah. Patut disayangkan juga dengan bergelimpangan beasiswa pendidikan akan tetapi prasarana dan sarana pendidikan di bumi etam ini sangat miris sekali. Ada sekolah bahkan tidak memiliki jaringan listrik atau ruang kelas yang tidak memadai. Bukan hanya di daerah pedalaman tapi di kota pun demikian.

Paradigma sebagian  masyarakat saat ini mengenai pendidikan hanya sekedar sbagai alat untuk mendapatkan pekerjaan atau hidup yang lebih baik lagi
 
Jangan heran ada siswa yang dibagi jam sekolahnya, ada yang masuk pagi dan ada yang masuk siang. Ini yang menjadi PR kita bersama terutama pemangku kebijakan. Jangan hanya membuncitkann perut sendiri tetapi seharusnya membuncitkan juga mutu pendidikan kita di bumi Kalimantan Timur.
Terbaru, saya pernah menerima laporan dari beberapa kader bahwa ada sekolah yang memberikan sanksi kepada muridnya berupa denda dengan menggunakan uang. Tentu hal ini bukan merupakan budaya bangsa Indonesia, dimana segala hal harus dinilai dengan uang. Ini sangat kontras sekali mengingat banyaknya sumber daya alam yang dimiliki Kaltim. Jikalau memang mau diterapkan denda, kenapa tidak sekalian dendanya satu juta rupiah saja. Biar sekalian mahal dan member efek jera.

Jikalau mental kapitalis dan materialistis bersarang di kepala pelajar sejak dini, bagaimana nasib Kalimantan Timur kedepannya. Mungkin saja yang berkuasa adalah para pemilik modal. Bakal terjadi kesenjangan sosial dan tentunya rakyat Kalimantan timur dalam 20 tahun kedepan yang sangat dirugikan.

Bahkan ada laporan juga salah satu sekolah dasar di Kota Samarinda ada siswanya yang membawa handphone ke sekolah. Handphonenya tidak tanggung-tanggung , berharga jutaan rupiah. Hal seperti ini sangat disayangkan sekali, jikalau dengan alasan agar mudah dihubungi orang tua atau wali murid.

Sebenarnya kami tidak melarang siswa memiliki gadget tersebut, tapi kami menyayangkan di izinkannya dibawa ke sekolah. Padahal sekolah seharusnya dapat memfasilitasi telepon yang dapat digunakan seluruh siswa di sekolah tersebut untuk menghubungi orang tua mereka. Kan ada dana dari pemerintah. Jangan sampai dana tersebut  dipakai untuk hal yang tidak urgent dalam kegiatan belajar mengajar.

Kami juga menyayangkan para pendidik yang hanya sekedar mengincar pencapaian target menaikan karier tapi melupakan muatan dalam pendidikan tersebut, seperti yang terjadi dalam kasus di atas. Seharusnya pihak sekolah mampu memberikan solusi dan sanksi yang mendidik jikalau ada siswa yang melanggar aturan. Jangan segala hal dinilai dengan materialistis. Misalnya dengan memberikan sitem poin dalam atran sekolah, jadi jika ada siswa yang melanggar akan dikurangi poinnya. Kalau dia berprestsi diberi tambahan poin. itu lebih mendidik dan tidak menggunaan system kapitalis.

Mendidik bukan hal mencoba – coba sebuah system. Sangat disayangkan juga banyak calon pendidik yang adab kesehariannya jauh dari hal yang baik. Ini seharusnya menjdi pr besar kita semua sebbagai warga Kalimantan timur . bagaimana menciptakan generasi pelopor yang beradab dan berbudaya. Para pendidik seharusnya menjadi teladan yang baik terutama para calon pendidik di kemudian hari. (dull)
Share on Google Plus

About IMSA Etam

0 komentar: